Postingan

Gazan Azka, Si Miliuner Muda

Gambar
Yang tengah itu, namanya Gazan Azka, percaya ga sih kalau di usianya yang baru 19 tahun dia sudah punya omzet mencapai 1 Miliar dari jualan keripik pisangnya? Iya, serius keripik pisang. Bukan jualan property atau kapal pesiar. Awalnya, saya pun antara percaya ga percaya dan pengin banget suatu saat bisa ketemu si Gazan ini untuk bertanya langsung serta membuktikannya sendiri. Qadarullah, Allah memberi jalan mempertemukan saya dengan anak ini melalui sebuah seminar tidak lama setelah saya "mengenalnya" melalui internet. Setelah ikut seminarnya, saya cuma bisa geleng-geleng kagum kepada adik sekaligus (yang sudah saya anggap sebagai) guru saya ini. Mindsetnya, mentalnya, joss...!! Padahal Gazan ini bukan orang mampu. Waktu dia kecil, cita-citanya saja hanya ingin membeli Chitato *pas bagian ini bingung mau ketawa atau sedih :'D Tapi akhirnya dia membuktikan, dari kegagalan-kegagalan di masa kecil dan beberapa usaha yang dia jalani sebelumnya, kini dia ...

Apa Hakikat Hidupmu?

Gambar
Kita mungkin memang butuh diingatkan, selalu diingatkan, bahwa hakikat hidup di dunia ini adalah untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan menerima sebanyak-banyaknya. Lantas kenapa kita sering mengeluh ketika kita berkorban jauh lebih banyak daripada orang lain? Lantas kenapa kita mudah sakit hati ketika apa yang kita berikan lebih banyak dari apa yang kita terima? Hai, Fulan. Siapa yang kau tiru? Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam? Yang katamu uswatun hasanah? Yang kau bilang panutan terbaikmu itu? Asal kau tahu, malaikat penjaga gunung pernah meminta ijin untuk menimpakan Uhud ke salah satu kaum yang tidak mengikuti nasihat beliau, tapi beliau menolaknya. Asal kau tahu, setiap beliau pergi ke masjid, setiap kali itu pula beliau diludahi, yang entah suatu ketika si peludah yang biasa meludahinya tidak ada lantas beliau merindukannya, "Kemana perginya orang yang biasa meludahiku?" Bahkan di akhir hayatnya, beliau masih sempat mengingat ...

Sabar, Perbaiki Diri, dan Berpuasalah

Gambar
Syukur, seringkali gagal terucap karena diiringi oleh rasa semu yang membutakan. Misalnya, ketika kita makan. Pernah dengar istilah, "Bumbu terenak dari setiap masakan adalah rasa lapar"? Sayangnya, selalu dan selalu, konsentrasi kita terlalu banyak teralihkan kepada enak dan tidaknya rasa dari makanan itu. Padahal, seenak apapun makanan yang kita makan, kalau kita makan dalam kondisi perut yang sudah kenyang, menjadi biasa saja tuh rasanya. Bahkan besar kemungkinan tidak kita habiskan, karena perut kita sudah tidak sanggup menampungnya. Sebaliknya, sestandar apapun rasa makanan yang kita makan, sepiring itu rasanya kurang kalau kita makan dalam kondisi perut yang kosong. Lapar, menjadi sesuatu yang seringkali lupa untuk kita syukuri. Terbutakan oleh rasa dari makanan yang akan kita makan. ### Kalau itu tadi tentang makan, kondisi yang sama berlaku pula terhadap masalah kehidupan yang sedang kita lalui. Kita ini memang makhluk yang mudah lupa, ser...

Bercita-cita Menjadi Seorang Sales Produk

Gambar
Panasnya kota Semarang siang ini membuat saya memutuskan untuk rehat sejenak di salah satu masjid di tepian Jalan Soekarno-Hatta. Saat sedang asik menikmati semilir angin di serambi masjid, ada seorang sales produk sebuah permen yang ikut memarkir motornya, beristirahat sebentar, lalu mengeluarkan nota-nota tagihan dan mulai menghitungnya satu per satu. Percaya atau tidak, saat kecil dulu saya pernah punya cita-cita menjadi sales produk seperti mas yang sedang duduk di samping saya ini. Sebuah pekerjaan yang bisa dikatakan "kurang layak" untuk dijadikan sebuah cita-cita. Aneh sih memang. Saya sendiri masih suka heran ketika mengingatnya. Alasannya sederhana, karena dahulu hampir semua Paman saya memiliki profesi yang sama, yaitu menjadi sales produk. Pekerjaannya mengantar produk dari satu toko ke toko lainnya, lalu menagih uang ke pemilik toko setiap akhir bulannya. Saya tahu karena saat itu sering diajak oleh Paman bekerja. Dahulu saya berpikir pekerjaan in...

Makna Ukhuwah Dalam Sebuah Jama'ah

Gambar
Kemarin, saya merasa diberi kesempatan untuk belajar kembali tentang makna sebuah ukhuwah, dalam perjalanan 2 hari 2 malam yang sangat luar biasa. Berangkat dari Semarang menuju Jakarta, kami yang berjumlah kurang lebih 48 orang memutuskan untuk berangkat dalam satu rombongan besar. Jumlah yang tidak sedikit untuk sebuah perjalanan yang menggunakan kereta api dan tanpa kendaraan pribadi. Selama perjalanan, kami belajar untuk saling membantu dan mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran. Dalam setiap kesempatan, kami belajar memahami karakter kawan-kawan kami yang berlainan satu sama lain. Dan saat momen-momen tertentu, kami belajar untuk meletakkan kepentingan kawan-kawan kami jauh di atas kepentingan kami pribadi. Inilah, makna ukhuwah dalam sebuah jama'ah. Sebuah hal yang tentu akan menjadi biasa, berbeda makna, dan berbeda rasa, ketika 48 orang itu terpisah dalam kelompok-kelompok kecil. Alhamdulillah, rasa lelah yang mendera selama perjalanan terbayar lunas dengan ...

Calon Enterpreneur Hafidz Hafidzah

Gambar
Hari Sabtu kemarin, saya mendapat kesempatan untuk sharing tentang materi kewirausahaan di depan adik-adik Pesantren Tahfidz Bina Insani Semarang. Ini merupakan pengalaman pertama saya berbicara tentang materi "seberat" ini di depan adik-adik seusia anak SMP. Memang sebelumnya beberapa kali materi yang hampir sama sudah pernah saya bawakan di hadapan teman-teman mahasiswa dan adik-adik SMA, tapi tentu bukan hal mudah menyusun ulang materi ini supaya tidak membosankan dan mudah dipahami oleh adik-adik kita yang masih seusia SMP ini. Alhamdulillah, ternyata mereka antusias sekali menyimak slide demi slide presentasi. Dalam sharing kemarin, saya lebih menekankan pentingnya mempunyai mindset dan mental seperti entrepreneur. Untuk ke depan mau jadi apa, insya Allah tidak masalah asalkan punya dua modal utama ini. Banyak kok pengusaha tapi mindset dan mentalnya bukan/belum menjadi entrepreneur, sehingga dia sulit berkembang. Dan banyak juga karyawan yang punya ...

PRASANGKA

Gambar
Sumber: alhikmah.co Hai kamu, maukah aku kasih tahu sesuatu yang jika kamu lakukan (entah itu benar atau salah) keduanya sama-sama menimbulkan kerusakan? Kalau belum tahu, aku kasih tahu ya. Sesuatu itu bernama #PRASANGKA . Prasangka itu, jika benar, tidak akan menimbulkan kebaikan bagi keduanya. Baik untuk si pelaku maupun (sebut saja) korban. Yang ada, korban biasanya tersinggung atau merasa tidak nyaman karena ada yang telah berprasangka kepadanya, meskipun ternyata prasangka itu benar. Dan prasangka itu, jika salah, akan menimbulkan efek kerusakan yang sangat besar. Si korban akan merasa tertuduh, terfitnah, karena pelaku sudah berprasangka yang salah terhadap dirinya. Salah-salah, korban bisa menuduh balik si pelaku. Nah, si korban jadi ikut terpancing untuk berprasangka bukan? Itu kalau hanya 2 orang, bisa dibayangkan kalau prasangka itu melibatkan banyak orang. "Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, karena sebagian dari prasang...

Kita Itu Kurang Tilawah, Bukan Kurang Piknik

Gambar
Orientasi kita dalam mengejar harta, jabatan, kekayaan, memang membuat kita menjadi cepat lelah. Tapi sayangnya, banyak orang sering salah mengartikan makna dari "lelah" itu sendiri. Banyak dari kita - termasuk saya sendiri - sering mengartikan bahwa yang lelah dari diri kita adalah fisik dan pikiran kita saja. Sehingga kita merasa cukup mengobati rasa lelah itu hanya dengan tidur atau piknik (rekreasi) ke suatu tempat. Padahal ada satu bagian dari tubuh kita yang mungkin saja lebih merasa kelelahan dan lebih membutuhkan pengobatan daripada fisik dan pikiran kita. Apakah itu? Ya, jawabannya adalah HATI kita. Betapa sering kita berprasangka buruk terhadap rekan kerja kita? Betapa sering kita menahan emosi dan amarah ketika berurusan dengan pimpinan atau klien-klien kita? Betapa sering kita melalaikan Allah karena saking sibuknya kita dengan deadline pekerjaan kita? Lantas, apa obat dari itu semua? "(yaitu) orang-orang yang beriman dan HATI MEREKA menjadi tenteram de...

Cinta Itu, Dimulai Dari Rasa Percaya

Gambar
Cinta itu, dimulai dari rasa percaya. Ketika aku sudah mempercayaimu, aku akan merasa aman ketika berada di dekatmu. Setiap milikku adalah milikmu juga. Sehingga ketika kau ingin sesuatu dariku, aku akan merelakannya untukmu. Ketika berada di rumah, aku tidak akan ragu meletakkan kunci sepeda motor di ruang tamu. Karena aku percaya kepada Ayah, Ibu, Kakak, dan juga Adik-adikku. Tapi ketika ada tamu, jelas aku akan menyimpannya di tempat lain yang lebih aman. Pun, ketika sahabatku ingin mengembalikan buku ke kontrakanku dan aku sedang beristirahat. Tanpa ragu aku akan memintanya untuk langsung masuk tanpa mengetuk pintu. Aku yakin dia hanya akan meletakkan buku itu di atas meja lalu bergegas pergi. Dia pasti tahu kalau aku memang sedang butuh istirahat, karena jika tidak, tentu saja aku lebih memilih menemuinya. Dan...jatuh cinta kepada-Mu, akan kumulai dengan memperkuat rasa percayaku atas segala ketetapan-Mu. Aku tidak akan pilih kasih lagi untuk menerima keteta...

Memburu Berkah

Gambar
Salah satu kutipan favorit dalam buku Lapis-lapis Keberkahan karya Ustadz Salim A. Fillah. "Jika jodoh adalah bagian dari rizqi, boleh jadi berlaku pula kaidah yang sama. Sosok itu telah tertulis namanya. Tiada tertukar dan tiada salah tanggal. Tetapi rasa kebersamaan, akan ditentukan oleh bagaimana adab dalam mengambilnya.  Bagi mereka yang menjaga kesucian, terkaruniakanlah lapis-lapis keberkahan.  Bagi mereka yang mencemarinya dengan hal-hal yang mendekati zina, ada kenikmatan yang kan hilang meski pintu taubat masih dibuka lapang-lapang. Rizqi adalah ketetapan. Cara menjemputnya adalah ujian. Ujian yang menentukan rasa kehidupan. Di lapis-lapis keberkahan dalam setitis rizqi, ada perbincangan soal rasa. Sebab ialah yang paling terindra dalam hayat kita di dunia. " Jazakallah atas inspirasinya Ustadz Salim A. Fillah, buku yang sangat bermanfaat. Lapis-lapis Keberkahan. Memburu berkah amatlah berat, tapi justru didalamnyalah ada banyak rasa ...